Purple Rain
Monday, March 3rd, 2008I’m quit!
Mungkin aku bakal bilang itu ketika jengah dengan omongan orang tapi bisa jadi tidak karena aku gak mau menyerah. Apapun alasannya, tindakanku dinilai salah. Aku sadar itu tapi bagaimana lagi. Andai tidak sekarang, tidak juga nanti, lantas kapan?
Masalahku memang hanya punyaku. Tidak bakal jadi masalah orang lain karena mereka punya soalan sendiri juga.
"Dulu aku suka bantu-bantu kawan, sepertimu juga. Namun, belakangan, aku pikir, kok percuma bantu-bantu mereka. Apa mungkin kelak mereka bakal bantu aku?"
Sial! Ujaran itu bikin bingung. Bingung, kenapa ada orang macam itu, yang sempat melontarkan kata-kata dangkal macam itu. Buatku sih, "bantu aja, urusan nanti gak penting, wong hidup 1 jam lagi juga masih misteri, kok berharap bakal dibantu orang di masa depan."
Toh segala kesusahanku bukan berarti apa-apa buat yang satu ini. Aku cuma bisa jengkel. Kapan aku dapat waktu yang tepat seh? Andai orang-orang tahu dan mau mengerti alasanku melakukan ini…
Rasa keadilan seringkali terpaksa bertolak belakang dengan birokrasi. Birokrasi omong kosong!
Aku punya masalah finansial..
gak penting itu buat mereka
Aku punya masalah kesehatan..
gak penting itu buat mereka
Mona gak kenal kota jakarta ini..
gak penting itu buat mereka
Yang paling penting, omongan mereka aku turuti!
Seperti babu saja..
Bermula dari beberapa hari lalu, ketika ngantar Mona ke Batavia, aku dapat luka baru (dalam arti harafiahnya lho..) Seorang pengendara motor yang berkendara persis berjajar denganku di sisi kananku, tiba-tiba berbelok ke kiri. Terang aja jarak segitu gak cukup panjang untuk ngerem dan hindari benturan. Masih untung - orang Indonesia, celaka masih punya untung juga - kecepatan motorku gak terlalu tinggi.
Kecelakaan memang. Aku terjungkal, lecet di dengkul begitu juga Mona, hanya saja dia gak terlalu parah. Si penikung, jatuh juga tidak apalagi lecet. Dia bantu aku bediri karena tiba-tiba aku jatuh lagi, kakiku lemas, mungkin syaraf motorikku yang kena benturan tadinya.
"gak apa-apa, mas?" kata orang itu.
aku cuma diam, kakiku seperti mati rasa seh, mendadak nyeri! jadi aku gak jawab pertanyaan orang itu. begitu yakin aku gak apa-apa, dia jabat tanganku, minta maaf dan buru-buru pergi. Tinggal Mona yang bebersih bajunya dan aku yang terduduk di trotoar.
Heran! saat itu aku gak marah.. malah tertawa, hehehe..
Senang juga seh, aku gak terpancing emosi, hanya aja, aku sayangkan orang itu cuma minta maaf tanpa tanggung jawab lain, selain bantu aku berdiri. Seperti juga pemerintah sekarang, cuma minta maaf atas segala kesusahan yang terjadi pada rakyatnya tanpa tanggung jawab lainnya selain merasa prihatin dengan yang terkena musibah. Dan rakyat pun menirunya!
Aku memang hidup di negeri aneh..
—————————————————————————————————
I never meant 2 cause u any sorrow
I never meant 2 cause u any pain
I only wanted 2 one time see u laughing
I only wanted 2 see u laughing in the purple rain
Originally sang by Prince
but i love when it played by John Petrucci on the guitar!