Best of Both World - 1

cerita tentang Laut Tinggi dan Laut Rendah

Rumahku di Pulau Oval. Tidak oval benar memang, lebih mirip belah ketupat malah.
Di Utara pulau ada Laut Tinggi. Di Selatan ada Laut Rendah. Keduanya bertemu di
Timur dan Barat pulau.

Selain pulau kami, karena aku memang tidak hidup sendiri, Laut Tinggi dan Laut
Rendah dipisahkan oleh garis hitam yang panjang sekali. Itu kalau tampak dari
atas, kalau kau sejajar dengan pulau, maka yang kau lihat adalah sebuah jalan
setapak yang nyaris serata air di Laut Rendah dengan tebing di sisi Laut Tinggi.

Ke arah Timur, adalah jalan ke daratan utama. Perlu dua minggu berjalan kaki
untuk sampai di daratan utama. Aku pernah ke sana beberapa kali, menemani Bapak
membeli beberapa kebutuhan orang-orang desa di Pulau Oval. Daratan utama begitu
luas, sampai-sampai tepi-tepi daratan yang lain tidak terlihat. Di daratan utama
ada banyak kota. Yang terdekat adalah Kota Lupi, hanya dua hari dari ujung jalan
setapak.

Ke Barat, entah ke mana. Satu pun penduduk pulau
tidak tahu ke mana arah jalan itu kecuali satu orang, si Tua Pocci, itu juga
kalau dia masih hidup. Hanya si Tua Pocci yang berani berjalan ke Barat lebih
dari dua minggu tapi sampai sekarang dia belum kembali!

Pantai di pulau kami di sisi Laut Tinggi selalu berlangit cerah dan berangin
kencang. Untuk ke sana, kami harus berjalan menanjak hampir selama setengah hari. Di ujung tanjakan ada sebuah tebing setinggi empat orang dewasa. Di balik tebing itulah, Laut Tinggi berada. Puncak tebing hanya berselisih tinggi satu orang
dewasa dengan muka air Laut Tinggi. Aku tak pernah berani untuk turun ke air di Laut Tinggi karena dasar lautnya juga amat curam. Airnya tampak kelam dan begitu bergejolak. Kadang kala, di musim-musim angin utara datang, air Laut Tinggi terciprat ke balik tebing dan membasahi lembah. Air di Laut Tinggi tidak berasa asin, karena itu, daerah di Utara pulau tampak lebih hijau dari pada sisi Selatan.

Pantai di Laut Rendah lain lagi. Sepanjang tahun di situ selalu mendung dan berangin basah tapi tak pernah hujan. Tanahnya berbatu tanpa karang. Gersang dan suram. Aku selalu tak suka berlama-lama berdiri di sana karena dingin. Ohh.. Aku lupa bilang, asal nama Laut Rendah, hmmm… karena lebih rendah dari Laut Tinggi, tentunya! Untuk ke Laut Rendah, kau harus berjalan setengah hari ke Selatan. Jalannya nyaris datar-datar saja kecuali beberapa ratus langkah menjelang bibir pantai, jalan menurun agak curam walau tak securam jalan ke Laut Tinggi. Satu lagi, tidak ada tebing di Selatan seperti di sisi Utara pulau. Dasar Laut Rendah sampai beberapa ratus langkah tidak terlalu dalam. Aku sering berenang di situ. Airnya yang asin juga lebih mudah membuatku mengambang.

Pulau Oval seakan-akan adalah dataran miring kalau dibayangkan tapi buatku, pulau ini adalah tempat terindah di dunia. Hanya perlu satu hari untuk berjalan dari ujung paling Utara pulau ini ke ujung paling Selatan dan hanya perlu dua hari untuk bepergian dari ujung paling Timur Pulau Oval ke ujung paling Barat.

Pada malam-malam tertentu, kadang kala di Laut Rendah terlihat kerlip lampu di kejauhan. Kata orang-orang tua, itu adalah sisa-sisa kendaraan orang-orang dari peradaban maju di jaman dahulu. Mereka sering kali muncul menghantui nelayan-nelayan dari daratan utama. Aku selalu merinding membayangkan cerita itu.

(bersambung)

Van Halen - Best of Both World

Leave a Reply